
Fakultas Pertanian Unisa Palu Sukses Gelar Kuliah Tamu “Gapki Goes To Campus 2026”, Bahas Trilema Sawit Indonesia
PALU – Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu sukses menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu berskala regional dengan mengangkat tema krusial: “Daya Saing Sawit Indonesia: Menyelaraskan Trilema Produksi, Kebijakan dan Hijau.” Kegiatan yang menjadi bagian dari program GAPKI Goes to Campus 2026 ini berlangsung pada Rabu, 10 Juni 2026, bertempat di Aula Dr. Ir. Aris Askarah Pas, M.P., Fakultas Pertanian Unisa Palu.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, fakultas, perwakilan organisasi kemahasiswaan, serta ratusan mahasiswa Fakultas Pertanian Unisa yang tampak antusias memadati ruang aula sejak pukul 13.00 WITA.
Sinergi Akademik dan Industri: Sambutan Wakil Rektor III
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Alkhairaat, drg. Lutfiah Sahabuddin, M.K.M. Dalam opening remarks-nya, beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam atas inisiatif kolaborasi antara sektor industri kelapa sawit dan dunia akademik.

“Kolaborasi melalui program GAPKI Goes to Campus ini sangat strategis bagi mahasiswa kita. Industri sawit adalah salah satu pilar ekonomi nasional, dan mahasiswa Pertanian Unisa harus siap mengambil peran di dalamnya dengan bekal wawasan yang seimbang antara peningkatan produksi dan kelestarian lingkungan,” ujar drg. Lutfiah dalam sambutannya.
Turut hadir langsung memberikan dukungan penuh dalam kegiatan ini, Dekan Fakultas Pertanian Unisa Palu beserta Wakil Dekan I dan Wakil Dekan II, yang mendampingi jalannya acara dari awal hingga akhir.
Mengurai Trilema Sawit Bersama Ketua GAPKI Sulawesi
Dipandu oleh Lisa Nurwidya, S.Pd., M.Si. selaku moderator, kuliah tamu ini menghadirkan narasumber utama yang kompeten di bidangnya, yaitu Dony Yoga Perdana, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Sulawesi. Bersama dengan tim rombongan dari GAPKI, beliau membedah tantangan nyata yang dihadapi oleh industri kelapa sawit Indonesia saat ini, yang dikenal sebagai konsep “Trilema”.
Dalam pemaparannya, Dony Yoga Perdana menjelaskan bagaimana Indonesia berupaya keras menyelaraskan tiga sudut kepentingan yang sering kali berbenturan, yaitu peningkatan produksi, kepatuhan terhadap regulasi dan kebijakan, serta pelestarian lingkungan (green sustainability). Ketiga aspek tersebut ditegaskan harus berjalan beriringan agar industri sawit nasional tetap memiliki daya saing yang kuat di tingkat global.

Intisari & Kesimpulan Materi: Menuju Sawit Berkelanjutan
Dari pemaparan komprehensif yang disampaikan oleh Ketua GAPKI Cabang Sulawesi, terdapat beberapa poin penting yang menjadi kesimpulan utama dalam kuliah tamu ini:
Sektor Strategis Nasional: Industri kelapa sawit terbukti menjadi motor penggerak ekonomi yang besar melalui penyediaan pangan, energi (seperti biodiesel), bahan baku berbagai industri (kosmetik, sabun, farmasi), devisa negara, serta penciptaan lapangan kerja skala luas.
Implementasi Praktik Ramah Lingkungan: Untuk mewujudkan konsep sawit hijau, pelaku industri telah menerapkan berbagai tindakan nyata di lapangan. Mulai dari perlindungan kawasan konservasi, pengelolaan keanekaragaman hayati, pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan hama, penggunaan pupuk organik, pengelolaan limbah yang baik, rehabilitasi ekosistem mangrove, hingga komitmen menekan penggunaan pestisida dan herbisida.
Kontribusi Sosial & Transformasi Digital: Di sisi kemasyarakatan, industri ini terus mendorong program pemberdayaan, sektor kesehatan, pendidikan, serta penguatan kesejahteraan petani lewat kemitraan kebun plasma. Langkah ini diperkuat dengan modernisasi perkebunan melalui transformasi digital, seperti penggunaan drone, aplikasi monitoring berkala, dan mekanisasi tepat guna untuk memacu efisiensi.
Secara singkat, kuliah tamu ini menegaskan bahwa masa depan industri kelapa sawit Indonesia sangat bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam menyeimbangkan peningkatan produksi, kepatuhan terhadap regulasi, dan keberlanjutan lingkungan melalui inovasi teknologi serta pemberdayaan masyarakat agar tetap menjadi sektor unggulan yang inklusif bagi pembangunan nasional.
Antusiasme Mahasiswa dan Kehadiran Organisasi Kampus
Diskusi berjalan interaktif dengan banyaknya bobot pertanyaan yang diajukan oleh para mahasiswa Faperta Unisa Palu. Menariknya, forum ilmiah ini tidak hanya menarik minat mahasiswa peminat agronomi dan agribisnis, tetapi juga dihadiri oleh organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Alkhairaat.
Kehadiran rekan-rekan Mapala memberikan warna tersendiri dalam diskusi, terutama saat membedah komitmen industri kelapa sawit terhadap kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati di Sulawesi.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara pimpinan Unisa Palu, tim rombongan GAPKI, dosen, serta seluruh mahasiswa yang hadir, menandai suksesnya komitmen bersama dalam mendorong kemajuan riset dan implementasi pertanian berkelanjutan di Tanah Air. (Humas/Red)



